trik dan tips blogspotΙilmu pengetahuanΙinfo menarikΙilmu komputerΙ

Minggu, 29 Maret 2015

Contoh Artikel Isu Lingkungan Global Terbaru

| Minggu, 29 Maret 2015
 Isu Lingkungan Global Abad 21
Perubahan cara kita mengelola lahan dan masalah yang ditimbulkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir menjadi dua isu lingkungan terpenting abad 21.
Perbaikan dramatis pada cara kita mengelola lahan dan memilih energi menjadi kunci kesuksesan memasok makanan, menghemat air dan mengatasi masalah perubahan iklim pada abad 21.
Hal ini terungkap dalam Buku Tahunan Program Lingkungan PBB (UNEP’s Year Book) 2012 yang diterbitkan minggu lalu. Menurut UNEP, selama 25 tahun terakhir, sebanyak 24% wilayah daratan dunia sudah mengalami penurunan kualitas dan produktifitas akibat pola pengelolaan tanah yang tidak berkelanjutan.

Cara bertani dan mengolah lahan konvensional yang eksploitatif memicu erosi tanah 100 kali lipat lebih cepat dibanding cara alam membentuknya.
Pada 2030, jika kita tidak mengubah cara kita mengelola lahan, lebih dari 20% habitat di darat seperti hutan, rawa-rawa dan padang rumput di negara berkembang, akan segera berubah menjadi lahan garapan.
Hal ini akan menyebabkan kerusakan parah pada keanekaragaman hayati dan layanan ekosistem penting seperti material, air dan energi yang kita gunakan.

Dampak cara kita mengelola lahan terhadap perubahan iklim juga sangat besar. Tanah mengandung bahan-bahan organik yang berfungsi sebagai penyimpan karbon dalam jumlah besar. Bahan-bahan organik ini juga berfungsi sebagai pengikat nutrisi yang diperlukan tanaman untuk tumbuh dan memungkinkan tanah meyerap air hujan.
Sejak abad ke-19, sekitar 60% karbon yang tersimpan di tanah dan tanaman hilang akibat perubahan penggunaan lahan, seperti untuk lahan pertanian dan pemukiman penduduk.
Tanah di dunia sedalam satu meter, diperkirakan menyimpan 2.200 Gigaton atau 2.200 miliar ton karbon – lebih banyak dibanding jumlah karbon yang tersimpan di atmosfer.Jika cara pengelolaan lahan tradisional berlanjut, karbon-karbon ini akan terlepas ke atmosfer yang akan memerparah pemanasan global yang diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar fossil.

Kerusakan pada lahan-lahan gambut saat ini memroduksi lebih dari 2 Gt emisi karbon dioksida (CO2) per tahun – setara dengan 6% emisi gas rumah kaca yang diproduksi oleh manusia. Dan tingkat kerusakan lahan gambut saat ini 20 kali lipat lebih cepat dibangkit kapasitas lahan gambut untuk menyimpannya.

Buku tahunan yang diluncurkan empat bulan sebelum Pertemuan Rio+20 ini juga membahas tantangan besar untuk menon-aktifkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang sudah berakhir masa pakainya.
Dalam sepuluh tahun ke depan, jumlah PLTN diperkirakan akan bertambah 80 unit. Pada saat yang sama, PLTN generasi pertama juga akan berakhir masa pakainya.
Terhitung Januari 2012, sebanyak 138 PLTN akan dinon-aktifkan di 19 negara, termasuk 28 di Amerika Serikat, 27 di Inggris, 27 di Jerman, 12 di Perancis, 9 di Jepang dan 5 di Federasi Rusia. Namun dari semua PLTN yang akan dinon-aktifkan tersebut hanya 17 yang sudah berhasil dinon-aktifkan dengan aman.
Negara-negara maju kini juga tengah meninjau kembali program nuklir mereka sejak terjadinya tragedi tsunami yang merusak PLTN di Fukushima dan wilayah lain di Jepang pada 2011.

Sementara jumlah negara berkembang yang berencana membangun PLTN baru semakin banyak dan PLTN tua yang akan dinon-aktifkan juga terus bertambah.
Menurut UNEP, biaya untuk menon-aktifkan PLTN tergantung dari tipe, ukuran, kondisi dan lokasi reaktor serta kedekatannya ke fasilitas pembuangan limbah nuklir.
Di Amerika Serikat, biaya rata-rata untuk menon-aktifkan PLTN mencapai 10-15% dari modal awal. Sementara di Perancis, dalam kasus reaktor Brennilis, biayanya mencapai 60% dari modal biaya pendirian. Biaya ini diperkirakan akan terus meningkat pada masa datang.
Menurut Achim Steiner, Direktur Eksekutif UNEP, dua masalah besar di atas – yaitu tata kelola lahan dan penon-aktifan PLTN – akan menentukan masa depan dunia. “Pertanyaannya adalah, apakah dunia nanti mampu memerangi dampak perubahan iklim dan mengatasi limbah berbahaya termasuk limbah nuklir,” ujarnya.
Untuk itu dunia perlu memertimbangkan masak-masak cara mereka memilih energi dan mengelola lahan. Semua demi keselamatan dan kesehatan generasi mendatang.
 
Pendapat Environmentalis dan Biologis vs Economis
     Para pencinta lingkungan dan biologi menyatakan bahwa bumi telah menanggung beban yang melampaui kekuatannya dengan jumlahnya sangat terbatas yang terlihat dari semakin punahnya spesies tanaman maupun hewan, pemanasan global, dan semakin banyaknya orang yang hidup miskin. Berbeda dari pendapat Julian Simon seorang ekonom yang menyatakan bahwa sumber-sumber alam di dunia ini sifatnya tak terbatas. Terjadinya kelangkaan (air bersih, energi, dan sebagainya) sifatnya hanya sementara. Menurutnya kesuksesan akan tercapai apabila tingkat harapan hidup meningkat, terjadi pertumbuhan ekonomi global, dan menurunnya energi.
Lester Brown sebagai presiden/pimpinan Worldwatch Institute menentang pendapat ekonom Julian Simon dengan mengajukan argumentasinya bahwa persediaan-persediaan yang esensial dari sumber-sumber yang dapat diperbaharui telah merosot dan teknologi yang adapun tidak akan mampu mengembalikan pada keadaan semula. Kenyataan menunjukkan bahwa dari 17 perikanan di lautan besar yang ada di dunia ini, hanya 4 yang diambil hasilnya sesuai dengan kapasitasnya, sedangkan 13 lagi sisanya sudah merosot.
     Pendapat-pendapat antara ekonom dengan pencinta lingkungan dan biologi ini tidak hanya pada masalah terbatasnya atau tidaknya sumber alam ini, akan tetapi juga pada penggolongan air dan udara ke dalam kelompok barang bebas yang bernilai ekonomis rendah, sehingga cenderung mendorong orang-orang dan juga perusahaan mengunakannya secara bebas. Hal ini diperburuk dengan kenyataan bahwa masih ada negara-negara yang memanfaatkan laut maupun pulau-pulau terpencil di pasifik selatan untuk tempat percobaan teknologi nuklir mereka, negara-negara besar malahan menunjukkan ketidakmauannya untuk menandatangani perjanjian pelarangan uji coba nuklir.
Pendapat Environmentalis dan Ekolog
     Walaupun istilah ini berhubungan satu sama lain, tapi konsep ini sebenarnya berbeda. Ekologi mengacu pada studi yang mempelajari hubungan antara berbagai organisme dengan lingkungan alamiah mereka. Lingkungan Hidup meliputi lingkungan fisik di sekitar kita atau habitat dati mana makhluk hidup biasanya melangsungkan kehidupannya, sebagai gerak, dan tumbuh-tumbuhan serta hewan untuk makanannya.
     Ekologi manusia (human ecology) adalah studi yang mempelajari hubungan antara manusia dengan sistem alamiah yang melingkupinya.Adanya keterkaitan antara ekosistem, daya dukung (carrying capacity) dan bencana yang melanda seluruh umat manusia (tragedy of the commons) dapat di jelaskan sebagai berikut :
a.           Ekosistem
     Menggambarkan adanya saling keterkaitan antara bermacam-macam spesies dalam satu lingkungan tertentu. Konsep ini menekankan pada perubahan pada satu bagian sistem bisa berpengaruh pada bagian-bagian lain dari kita menganalisa sistem sebagai satu kesatuan. Dan juga bahwa semakin beranekaragam sebuah ekosistem (yakni semakin banya jenis spesies yang hidup dalam ekosistem) berarti semakin stabil, tahan, dan adaptif pula ekosistem itu.
b.          Daya dukung
     Menunjukkan bahwa ekosistem itu memiliki batas eksploitasi maksimum. Sebuah ekosistem dengan sendirinya akan terganggu keseimbangannya apabila menampung terlalu banyak spesies dan apabila dimanfaatkan secara berlebihan oleh spesies yang hidup di dalamnya. Dengan inilah manusia mulai mengembangkan usaha pengelolaan ekosistem, seperti usaha perikanan dan peternakan, dimana jumlah hewan yang diternakkan haruslah disesuikan dengan kemampuan ekosistem ladang peternakan itu untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
c.           Tragedy of the commons
     Istilah ini menjelaskan tentang kepentingan-kepentingan jangka pendek tanpa mempertimbangkan akibatnya di masa datang, istilah ini deperkenalkan oleh ahli biologi Inggris yang bernama Garrett Hardin. Hal ini mengacu pada tindakan spesies dalam hal ini manusia yang secara tidak sadar mengakibatkan kerusakan ekosistem.
     Metafora tragedy of the commons bisa dianalogikan sekarang ini seperti kasus pemanfaatan hutan dunia. Kebutuhan akan devisa dan meningkatnya permintaan akan produk-produk hutan seperti : Kayu lapis dan pohon untuk pulp (bahan dasar kertas) oleh negara maju menyebabkan banyak negara-negara pemilik hutan mengekspoitasi hutannya dengan pikiran ini akan hutan yang ada di negara saya, padahal negara-negara pemilik hutan tropis lainnya seperti Brazil juga berpikiran yang sama. Mereka lupa bahwa hutan merupakan  paru-paru dunia dan sekaligus tempat hidup beraneka macam spesies hewan maupun tumbuhan.
Perhatian PBB Terhadap Masalah Lingkungan Hidup Dunia
     Sebagai sebuah organisasi duni yang keanggotaannya terbuka bagi semua negara, PBB baru mulai menaruh perhatiannya (concern) pada permasalahan lingkungan setelah 27 tahun berdiri. Konfrensi Lingkungan Hidup Dunia di Stockholm tahun 1972 berhasil menerapkan sebuah lembaga yang menangani masalah lingkungan hidup, yaitu : United Nations Enveironmental Programme (UNEP). Hal ini merupakan awal kesadaran masyarakat dunia terhadap masalah lingkungan hidup dunia. Maka untuk memelihara tempat tinggal seluruh umat manusia PBB mengadakan beberapa konferensi Khusus seperti :
1.          Kependudukan (Bucharest, 1974)
2.          Pangan (Roma, 1974)
3.          Wanita (Mexico City)
4.          Hunian Manusia ( Vancouver, 1974)
5.          Air (Mar del Plata, 1977)
6.          Pengundulan Tanah (Nairobi, 1977)
7.          Pembangunan Dunia (New York City, 1978)
     Konferensi-konferensi ini mampu memberikan sumbangan pemikiran bagi terpeliharanya lingkungan hidup dunia, namun permasalahan yang timbul tidaklah berarti sudah bisa diatasi. Fakta menunjukkan bahwa masih ter4jadi kemerosotan kondisi fisik bumi yang ditandai dengan meningkatnya konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmofir sebanyak 9%, semakin menipisnya lapisan ozon di stratosfir sehingga meningkatnya radiasi sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan penyakit kanker kulit.
     PBB mengadakan KTT bumi yang diselenggarakan di Rio di Janeiro, Brazil tahun 1992. Tempat ini dipilih karena negara ini memiliki paru-paru dunia terbesar di hutan amazone, pertemuan ini menghasilkan Deklarasi Rio mengenai Lingkungan Hidup dan Pembangunan yang ditandatangani oleh lebih dari 170 kepala negar/pemerintahan. Dan berhasil membuat kesepakatan bahwa pemanasan global merupakan masalah yang serius, dan para pemerintah yang telah menandatangani kesepakatan harus melaporkan perubahan emisi karbon dioksida (CO2) yang terjadi di negaranya masing-masing setiap tahunnya.
     Adanya persoalan-persoalan penting yang belum terselesaikan memaksa PBB untuk mengadakan pertemuan lagi pada bulan juni 1998 di New York, pada saat itu Kanselir Helmut Kohl melontarkan ide pembentukan sebuah lembaga yang menangani masalah lingkungan, adanya berbagai macam kepentingan dari negara-negara menyebabkan keputusan bulat sulit untuk diambil, seperti :
1.          Penghentian penggunaan bensin berimbal yang mendapatkan tentangan/penolakan dari negara-negara berkembang,
2.          Pengurangan subsidi bahan bakar fosil yang ditolak oleh negara-negara penghasil bahan bakar fosil.
D. Isu-isu Global Masa Kini dan Masa Depan
Secara garis besar permasalahan pokok yang dihadapi umat manusia di masa kini dan masa depan adalah :
1.          Bahan Makanan
     Pentingnya permasalahan ini dikarenakan banyaknya kasus kekurangan bahan makanan, berupa bencana kelaparan. Jumlah manusia yang meninggal akibat bencana ini sudah jutaan orang karena kelaparan yang terjadi di China, India, dan sebagainya. Masalah ini berkaitan dengan :
a.           Kebutuhan Obyektif pangan
     Semakin baiknya kondisi manusia sejak beberapa dasa warsa terakhir ini telah menyebabkan terjadinya pertumbuhan penduduk secara cepat, tentu keadaan ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan pangan.
     Ketika PBB melaporkan bahwa jumlah kalori yang dimakan oleh orang-orang Amerika Utara dan Eropa per harinya ternyata berlebihan 1/3 dari yang diperlukan oleh tubuh mereka, sementara orang-orang Afrika jumlah kalori yang dimakan masih kurang 6%. Untuk menutupi kekurangan kproduksi dan konsumsi, negara-negara berkembang semakin tergantung kepada negara-negara maju dalam impor bahan pangan utama yang semakin meningkat dari 12 juta ton pada tahun 1950-an menjadi 36 juta ton pada tahun 1972 hal ini dikarenakan pertumbuhan penduduk pertahun yang mencapai 10%, sedangkan pertumbuhan pengan hanya meningkat 2% saja. Dan juga akan semakin meningkat pada tahun-tahun mendatang.
b.          Permintaan efektif (effective demand)
     Kebutuhan obyektif harus diubah menjadi permintaan efektif dalam pasar bahan pangan dunia. Masalahnya adalah bahwa pasar itu diorganisasikan berdasarkan daya beli dalam mata uang yang kuat yaitu US$. Keadaan ini diperburuk oleh kenyataan-kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan swasta internasionallah yang banyak menguasai produksi pangan tersebut. Sebagai perusahaan swasta internasional yang tujuan utamanya mencari keuntungan, maka ia hanya akan tanggap pada permintaan efektif.
c.           Kendala fisik ataupun ekonomi dalam upaya peningkatan produktivitas pertanian.
     Terbatasnya tanah subur, apakah karena penanaman 1 jenis pohon yang sama secara terus menerus dan keterbatasan air minum dan irigasi telah menyebabkan produksi bahan makan sulit untuk dipertahankan apalagi bencana alam seperti : El Nino, banjir, kekeringan, dan sebagainya menyebabkan terjadinya krisis bahan makanan.
     Ramalan Thomas Robert Malthus, seorang ekonom berkebangsaan Inggris pada abad ke-19 (1798) bahwa pertumbuhan penduduk akan melebihi pertumbuhan bahan makanan. Pendapat dia  bahwa pertumbuhan penduduk dan bahan makanan akan seimbang jika terjadi bencana kelaparan, kurang makan, dan wabah penyakit, tidak terbukti karena penemuan teknologi kedokteran telah berjasa menyelamatkan jutaan umat manusia. Karena pentingnya bahan makanan ini menyebabkan FAO mengadakan Pertemuan Puncak Bahan Makanan dunia (World Food Summit) di Roma tahun 1997, yang membahas pembuatan pokok penanggulangan masalah bahan makanan di abad yang akan datang.
2.          Penduduk
     Meningkatnya kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan semakin berkembangnya sarana kesehatan sehingga mengurangi angka kematian/mortalitas bayi merupakan hal-hal yang menebabkan terjadinya pertumbuhan penduduk yang cepat pada abad-abad belakangan ini. Pertumbuhan penduduk akan berakibat pada banyak aspek kehidupan pendidikan, ketenagakerjaan, dan lingkungan hidup.
     Semakin banyak penghuni pelanet bumi ini semakin banyak pula bahan makanan, air, energi, papan, dan sebagainya yang dibutuhkan oleh manusia yang berarti makin banyak tanah yang harus diolah, pemakian pupuk dan pestisida, merosotnya kualitas air, pembangunan proyek-proyek pembangkit tenaga listrik dan pemompaan sumur-sumur minyak. Yang tentu saja akan berakibat semakin parahnya erosi tanah, pelusi air dan udara. Dan akhirnya akan melimbas pada merosotnya produksi bahan makanan, masalah kesehatan karena sanitasi, berkurangnya habitat yang nantinya menjadi penyebab hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversity). Namun umat manusia tidak hanya memerlukan tempat untuk tinggal beserta pekarangan saja, tetapi juga setiap individu setidak-tidaknya memerlukan beberapa meter persegi tanah untuk menghasilkan bahan makanan pokok untuk melangsungkan kehidupan dasar saja.
3.          Sejarah perkembangan penduduk dunia
     Sekarang ini pertumbuhan penduduk dunia terus meningkat pertahunnya dan diperkirakan akan terus meningkat pada masa-masa yang akan datang. Sejarah kependudukan dimulai lebih dari 120 abad yang lalu, pada saat orang-orang nomaden (hidup berpindah-pindah) datang ke lembah-lembah sungai yang besar, seperti : Nil, Efrat, Tigris, dll. Untuk membangun tempat pemukiman yang tetap/tidak berpindah-pindah lagi, jumlah penduduk dimasa itu diperkirakan baru 5 sampai 10 juta saja. Jumlah penduduk pada saat itu relatif stabil, karena kehidupan sangatlah berbahaya. Usia harapan hidup sangatlah pendek, mungkin hanya berkisar antara 25-30 tahun saja.
     Dengan dimulai jaman pertanian, kira-kira 10.000 hingga 12.000 tahun yang lalu ketika kehidupan umat manusia mulai menjadi makmur, terjadi beberapa perubahan. Peningkatan produktivitas karena dikembangkannya alat-alat yang membantu menwujudkan kesejahteraan manusia, seperti : alat bajak, kincir angin, dan juga semakin meningkatnya pengetahuan dalam bidang peternakan dan perikanan menyebabkan suplai bahan makanan meningkat berarti menigkat pula jumlah penduduk. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya tempat habitat.
     Sekitar tahun 1500 sesudah masehi inilah masa perluasan kolonial barat dimulai. Bencana-bencana mulai terjadi seperti : kelaparan, peperangan, maupun wabah penyakit seringkali menghancurkan kebudayaan lokal. Pertambahan penduduk telah memunculkan pola sejarah umat manusia yang lain yaitu peledakan jumlah penduduk dan pengeksploitasian sumber-sumber alam secara berlebihan.
4.          Era pertambahan penduduk yang pesat
     Revolusi Industri yang terjdi di Eropa dan menyebar ke Amerika Utara sebelum pertengahan abad ke-18 telah menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah penduduk secara tajam. Penemuan teknologi untuk meningkatkan hasil pertanian, perternakan, dan perikanan sehingga suplai bahan makanan terpenuhi dan juga kemajuan teknologi kesehatan yang mampu meningkatkan pemiliharaan kesehatan manusia, seperti penemuan pinisilin pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 menurunkan angka kematian manusia secara tajam, mulainya orang-orang memakai sabun, baju yang terbuat dari katun yang dapat menjaga dari parasit yang menular.
     Setelah PD II selesai juga merupakan awal terjadinya pertambahan penduduk di abad ke-20. pemilikan akan tanah yang subur, air yang melimpah, mineral, kekayaan hutan, minyak dan sebagainya, mempengaruhi budaya masing-masing kawasan. Semakin meningkat jumlah penduduk semakin meningkat pula pengekspoitasian terhadap sumber bahan mentah yahg ada, sehingga mencapai titik batas kemampuan alam sehingga menyebabkan sumber-sumber alam tidak mampu memenuhi kebutuhan penduduk. Keadaan ini telah menyebabkan terjadinya masalah-masalah yang diakibatkan oleh jumlah penduduk, dari yang namanya krisis ekonomi, sosial, kelaparan, mingrasi, sampai peperangan.
5.          Energi dan konservasi
     Embargo minyak yang dilakuka oleh OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries) atau organisasi negara-negara pengespor minyak termasuk Indonesia terhadap negara industri barat di tahun 1973 menydarkan kepada kita betapa pentingnya energi terutama yang berupa minyak. Minyak merupakan sumber energi alam yang non-renewable artinya begitu habis ya sudah.
Seluk beluk energi dinyatakan oleh Jarolimeck sebagai berikut :
1.      Seluruh kehidupan tergantung pada energi dan matahari merupakan sumber energi yang utama
2.      Makanan menghasilkan energi bagi seluruh bagian tubuh manusia
3.      Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja
4.      Energi yang ada di alam ini jumlahnya tetap, energi tidak bisa diciptakan ataupun dumusnahkan, hanya bentuknya saja yang berubah
5.      Energi dapat diubah bentuknya, dari energi mekanis ke energi listrik, listrik ke panas, dari energi kimia ke energi listrik dan demikian seterusnya
6.      Selam bertahun-tahun manusia telah menemukan sumber-sumber energi yang baru
7.      Sebagian besar dari masalah lingkungan yang serius yang dihadapi oleh umat manusia saat ini disebabkan oleh andanya perumbuhan yang menyebabkan semakin meningkatnya konsumsi energi
8.      Standar kehidupan suatu masyarakat ditentukan oleh produktivitasnya dan pruduktivitas ini dipengaruhi oleh penggunaan energi
9.      Sumber-sumber energi berukut penggunaanya berkaitan erat dengan tingkat perkembangan teknologi dan budayanya. Artinya mesyarakat –masyarakat yang sudah mencapai tingakta industri semakin membutuhkan energi yang sangat besar
10.  Perkembangan ekonomi sangat dipengaruhi oleh industrialisasi yang pada gilirannya juga membutuhkan energi dalam jumlah besar
11.  penemuan dan penggunan sumber-sumber energi yang baru menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan sosial.
12.  Sumber-sumber energi di dunia ini dan distribusinya sangat merata sehingga ada bangsa yang sudah maju namun demikian saling ketergantungan antar bangsa yang merupakan suatu keharusan belaum berjalan sebagaiana mestinya/masih terjadi ketimpangan.

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.